Jangan Abaikan Siaran Pers: Kunci Visibilitas Merek di Era AI

Mari kita jujur saja. Jika Anda seorang anggota manajemen level puncak di perusahaan Indonesia yang sedang menyusun anggaran pemasaran untuk 2026, mungkin Anda pernah bertanya: “Apakah kita benar-benar perlu membayar distribusi siaran pers? Bukankah cukup dengan mempostingnya di X (Twitter), LinkedIn, atau blog perusahaan?”

Lima tahun lalu, pertanyaan itu mungkin masih masuk akal. Namun, pada akhir 2025, pola pikir seperti itu justru berisiko tinggi. Situasinya berubah total. Kita tidak lagi hanya mengoptimalkan untuk sepuluh tautan biru Google. Kini, kita harus mengoptimalkan siaran pers untuk “Mesin Jawaban” berbasis AI—seperti ChatGPT, Google Gemini, Claude, dan Perplexity—yang semakin dominan di kalangan pengguna Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung atau Makassar.

Di era baru ini, siaran pers sederhana telah berevolusi dari sekadar alat penghubung dengan media menjadi sistem injeksi data krusial untuk kecerdasan buatan (AI). Inilah mengapa distribusi siaran pers melalui layanan yang terpercaya menjadi aset terpenting Anda dalam melawan halusinasi AI dan hilangnya visibilitas merek di pasar Indonesia yang semakin digital.

SEO Baru Adalah “GEO” (Optimisasi Mesin Generatif)

Ingatkah masa ketika kita cukup memasukkan kata kunci ke judul untuk menyenangkan algoritma Google? Itu sudah usang. Kini, kita menghadapi Optimisasi Mesin Generatif (Generative Engine Optimization/GEO), yang semakin relevan di Indonesia seiring maraknya penggunaan AI untuk pencarian informasi bisnis dan keuangan.

Ketika calon investor atau mitra bisnis bertanya kepada AI, “Apa saja perusahaan fintech inovatif teratas di Indonesia?”, AI tidak hanya mencari kata kunci. Ia mencari fakta terverifikasi dan data terstruktur untuk menyusun jawaban yang akurat.

Siaran pers adalah “makanan ideal” bagi model AI ini karena strukturnya yang kaku dan dapat diprediksi (Siapa, Apa, Kapan, Di Mana, Mengapa atau rumus 5W+1H). Model AI sangat menyukai struktur seperti ini. Saat Anda mendistribusikan siaran pers melalui layanan media nasional, Anda sedang menyuntikkan data bersih dan berwenang yang mudah dicerna oleh algoritma—dan akhirnya disajikan kepada pengguna di seluruh Indonesia.

Jika Anda tidak menyediakan data terstruktur ini, AI akan mencari sumber lain—dan di situlah bahaya akan muncul.

“Kekosongan Data” dan Masalah Halusinasi AI

Kita sering mendengar kasus “halusinasi” AI—di mana chatbot dengan yakin menyatakan fakta salah, seperti CEO mengundurkan diri atau perusahaan bangkrut, hanya karena data pelatihan tidak lengkap.

Di Indonesia, “kekosongan data” ini menjadi penyebab utama halusinasi AI terkait informasi perusahaan. Dengan distribusi siaran pers secara rutin, Anda mengisi kekosongan tersebut dengan “sumber kebenaran primer”, sehingga AI tidak perlu menebak-nebak.

Contoh Kasus di Indonesia: Sebuah perusahaan logistik menengah di Indonesia melakukan rebranding pada 2024 tanpa mengeluarkan siaran pers resmi, hanya mengandalkan update di situs web. Beberapa bulan kemudian, ketika pengguna bertanya ke platform AI tentang perusahaan tersebut, AI masih menyebut nama merek lama dan alamat kantor pusat yang sudah usang—berdasarkan data direktori pihak ketiga yang ketinggalan zaman. Solusinya? Satu siaran pers yang didistribusikan luas melalui media nasional yang kredibel. Dalam waktu singkat, model AI memperbarui informasi menjadi versi terkini.

Otoritas Adalah Mata Uang di Era AI

Anda mungkin berpikir, “Cukup posting di LinkedIn perusahaan atau Instagram saja.” Namun, model AI menilai sumber berdasarkan otoritas. Postingan di media sosial pribadi atau blog niche memiliki “otoritas domain” rendah dibandingkan wire service global seperti PR Newswire atau media nasional yang kredibel.

Fakta dari wire berita utama mendapat skor kepercayaan lebih tinggi, krusial untuk Optimisasi Mesin Jawaban (AEO) dan GEO. Distribusi luas memberi sinyal kuat kepada algoritma: “Ini bukan rumor, ini berita resmi.”

Saran Strategis

Bagaimana menyesuaikan strategi menghadapi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai triliunan rupiah berkat AI?

  1. Beri Makan Algoritma GEO Secara Rutin: Jangan tunggu akuisisi besar atau funding round. Keluarkan siaran pers secara berkala untuk kemitraan, perekrutan eksekutif, atau update produk—agar data AI tetap segar.
  2. Tetap pada Fakta: AI sulit memahami nuansa atau sarkasme. Buat siaran pers faktual, jelas, dan kaya data.
  3. Kutip Pakar Anda: AI sering mengambil kutipan langsung untuk pertanyaan seperti “Apa pendapat [Nama CEO] tentang regulasi OJK di sektor fintech?” Pastikan ada kutipan jelas yang mudah diindeks.

Kesimpulan

Di era AI yang semakin mendominasi pencarian informasi di Indonesia, diam bukanlah strategi—ia adalah penghapusan eksistensi digital. Jika Anda tidak mendistribusikan berita resmi, algoritma akan mendefinisikan narasi merek Anda berdasarkan rumor, data usang, atau tebakan. Sehingga hasilnya tidak akurat.

Investasi di distribusi siaran pers bukan lagi hanya untuk hubungan media tradisional. Ini adalah manajemen reputasi di dunia di mana mesin AI menjadi penjawab utama pertanyaan publik—terutama di pasar fintech dan e-commerce yang berkembang pesat di Tanah Air.


Sumber

Adaptasi dari PR Newswire, Search Engine Land, dan Forbes (2025) tentang peran siaran pers di era GEO dan AEO, disesuaikan dengan tren digital Indonesia.

Scroll to Top